kuning rumah sakit
Kuning Rumah Sakit: Eksplorasi Komprehensif Penyakit Kuning yang Didapat di Rumah Sakit
Penyakit kuning yang didapat di rumah sakit, sering disebut sebagai “kuning rumah sakit” di beberapa daerah, menghadirkan tantangan klinis yang signifikan pada populasi neonatal dan orang dewasa. Ini menandakan peningkatan kadar bilirubin yang terjadi selama dirawat di rumah sakit, berbeda dengan penyakit kuning yang muncul saat masuk rumah sakit. Memahami etiologi, pendekatan diagnostik, dan strategi penatalaksanaan kondisi ini sangat penting untuk mengoptimalkan hasil akhir pasien dan meminimalkan potensi komplikasi.
Ikterus yang Didapat di Rumah Sakit Neonatal: Etiologi dan Patofisiologi
Penyakit kuning neonatal, yang ditandai dengan perubahan warna kekuningan pada kulit dan sklera, merupakan fenomena umum pada bayi baru lahir. Namun, penyakit kuning yang didapat di rumah sakit pada neonatus memerlukan perhatian khusus karena potensi penyebab dan implikasinya.
-
Penyakit Kuning Menyusui: Jenis penyakit kuning ini timbul karena asupan susu yang tidak mencukupi, menyebabkan penurunan motilitas usus dan peningkatan sirkulasi bilirubin enterohepatik. Asupan kolostrum yang tidak mencukupi dapat menghambat ekskresi bilirubin.
-
Penyakit kuning ASI: Kondisi ini berkaitan dengan faktor dalam ASI yang menghambat konjugasi bilirubin. Meskipun mekanisme pastinya masih belum jelas, diperkirakan melibatkan enzim glukuronidase dalam ASI yang mendekonjugasi bilirubin di usus, yang menyebabkan peningkatan reabsorpsi.
-
Hemolisis: Hemolisis yang didapat di rumah sakit dapat terjadi karena berbagai faktor, termasuk transfusi darah, penyakit hemolitik isoimun (ketidakcocokan ABO atau Rh), defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD) yang diperburuk oleh pengobatan di rumah sakit, dan hemolisis yang disebabkan oleh sepsis.
-
Dehidrasi: Asupan cairan yang tidak memadai dapat menyebabkan dehidrasi, konsentrasi kadar bilirubin, dan mengganggu pembersihan hati. Hal ini terutama relevan pada bayi prematur atau mereka yang mengalami kesulitan makan.
-
Sepsis: Sepsis neonatal dapat mengganggu fungsi hati dan meningkatkan produksi bilirubin melalui hemolisis dan peradangan, sehingga berkontribusi terhadap penyakit kuning yang didapat di rumah sakit.
-
Prematuritas: Bayi prematur memiliki fungsi hati yang belum matang, sehingga mengurangi kemampuannya untuk mengkonjugasikan dan mengeluarkan bilirubin. Mereka juga lebih rentan terhadap komplikasi lain yang dapat menyebabkan penyakit kuning.
-
Obat-obatan: Obat-obatan tertentu yang diberikan selama rawat inap, seperti sulfisoxazole atau ceftriaxone, dapat menggantikan bilirubin dari albumin, sehingga meningkatkan risiko kernikterus, suatu komplikasi neurologis yang jarang namun menghancurkan.
-
Kondisi Bawaan yang Mendasari: Meskipun tidak didapat secara langsung di rumah sakit, kondisi bawaan tertentu seperti sindrom Gilbert atau sindrom Crigler-Najjar dapat terlihat atau memburuk selama dirawat di rumah sakit.
Evaluasi Diagnostik pada Penyakit Kuning Neonatal yang Didapat di Rumah Sakit Neonatal
Evaluasi diagnostik menyeluruh sangat penting untuk menentukan penyebab penyakit kuning yang didapat di rumah sakit pada neonatus.
-
Pemeriksaan fisik: Kaji derajat dan distribusi penyakit kuning, status hidrasi, pola makan, dan tanda-tanda infeksi atau penyakit yang mendasari.
-
Kadar Bilirubin Total dan Langsung: Mengukur kadar bilirubin serum total (TSB) dan bilirubin langsung membantu membedakan antara hiperbilirubinemia tak terkonjugasi (tidak langsung) dan terkonjugasi (langsung). Peningkatan bilirubin langsung menunjukkan kolestasis atau obstruksi saluran empedu.
-
Hitung Darah Lengkap (CBC): CBC membantu menilai anemia, hemolisis, dan tanda-tanda infeksi. Jumlah retikulosit dapat menunjukkan peningkatan produksi sel darah merah sebagai respons terhadap hemolisis.
-
Golongan Darah dan Faktor Rh: Menentukan golongan darah dan faktor Rh sangat penting untuk menyingkirkan penyakit hemolitik isoimun. Tes Coombs (tes antiglobulin langsung) mendeteksi antibodi yang menempel pada sel darah merah.
-
Pemutaran G6PD: Skrining untuk defisiensi G6PD penting dilakukan, terutama pada populasi dengan prevalensi kondisi tersebut yang tinggi.
-
Tes Fungsi Hati (LFT): LFT, termasuk alanine aminotransferase (ALT), aspartate aminotransferase (AST), alkalinephosphatese (ALP), dan gamma-glutamyl transferase (GGT), membantu menilai fungsi hati dan mengidentifikasi potensi kolestasis atau kerusakan hepatoseluler.
-
Analisis Urin: Analisis urin dapat mendeteksi bilirubinuria, menunjukkan hiperbilirubinemia terkonjugasi.
-
Kultur Darah: Jika dicurigai sepsis, kultur darah harus dilakukan.
-
Tes Fungsi Tiroid (TFT): Hipotiroidisme dapat menyebabkan penyakit kuning.
-
USG Perut: USG mungkin diindikasikan untuk mengevaluasi obstruksi saluran empedu atau kelainan lainnya.
Strategi Penatalaksanaan Penyakit Kuning yang Didapat di Rumah Sakit Neonatal
Strategi penatalaksanaan bergantung pada penyebab yang mendasari, kadar bilirubin, usia kehamilan, dan kesehatan neonatus secara keseluruhan.
-
Fototerapi: Fototerapi adalah pengobatan utama untuk hiperbilirubinemia tak terkonjugasi. Lampu biru-hijau mengubah bilirubin menjadi isomer yang larut dalam air yang dapat diekskresikan melalui urin dan empedu.
-
Transfusi Tukar: Transfusi tukar hanya dilakukan pada hiperbilirubinemia berat yang tidak berespon terhadap fototerapi atau bila terdapat bukti ensefalopati bilirubin akut. Ini melibatkan penggantian darah bayi dengan darah donor untuk menghilangkan bilirubin dan antibodi.
-
Imunoglobulin Intra Vena (IVIG): IVIG dapat digunakan dalam kasus penyakit hemolitik isoimun untuk memblokir penghancuran sel darah merah yang dilapisi antibodi.
-
Hidrasi: Memastikan hidrasi yang memadai sangat penting untuk meningkatkan ekskresi bilirubin. Cairan intravena mungkin diperlukan pada bayi yang mengalami dehidrasi.
-
Pengobatan Penyebab yang Mendasari: Mengatasi penyebab yang mendasarinya, seperti sepsis atau gangguan metabolisme, sangatlah penting.
-
Dukungan Menyusui: Memberikan dukungan kepada ibu menyusui untuk memastikan asupan ASI yang cukup sangatlah penting. Suplementasi dengan susu formula mungkin diperlukan dalam beberapa kasus.
-
Ulasan Pengobatan: Meninjau obat-obatan yang diberikan kepada bayi dan ibu untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi adalah penting.
Penyakit Kuning yang Didapat di Rumah Sakit Dewasa: Etiologi dan Patofisiologi
Meskipun lebih jarang terjadi dibandingkan penyakit kuning neonatal, penyakit kuning yang didapat di rumah sakit pada orang dewasa juga menimbulkan tantangan diagnostik dan terapeutik.
-
Cedera Hati Akibat Obat (DILI): Banyak obat yang dapat menyebabkan kerusakan hati, sehingga menyebabkan penyakit kuning. Penyebab umumnya termasuk antibiotik, obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), dan suplemen herbal tertentu.
-
Hemolisis Terkait Transfusi: Transfusi darah dapat menyebabkan hemolisis, yang menyebabkan peningkatan kadar bilirubin. Hal ini lebih mungkin terjadi pada pasien dengan kelainan sel darah merah atau antibodi terhadap sel darah merah donor.
-
Sepsis: Sepsis dapat menyebabkan kolestasis dan kerusakan hepatoseluler, yang menyebabkan penyakit kuning.
-
Penyakit kuning pasca operasi: Penyakit kuning dapat terjadi setelah operasi karena berbagai faktor, termasuk anestesi, transfusi darah, dan berkurangnya aliran darah hepatik.
-
Obstruksi Bilier: Pasien yang dirawat di rumah sakit mungkin mengalami obstruksi saluran empedu karena batu empedu, tumor, atau penyempitan.
-
Virus Hepatitis: Penularan virus hepatitis nosokomial (misalnya hepatitis B atau C) dapat terjadi di rumah sakit.
-
Kolestasis Terkait TPN: Nutrisi parenteral total (TPN) dapat menyebabkan kolestasis, terutama pada pasien yang menerima TPN jangka panjang.
-
Penyakit Hati yang Mendasari: Penyakit hati yang sudah ada sebelumnya, seperti sirosis atau hepatitis autoimun, dapat diperburuk selama rawat inap.
Evaluasi Diagnostik pada Penyakit Kuning yang Didapat di Rumah Sakit Dewasa
Evaluasi diagnostik pada orang dewasa serupa dengan pada neonatus, namun dengan penekanan lebih besar pada identifikasi penyakit hati yang mendasari dan obstruksi saluran empedu.
-
Riwayat dan Pemeriksaan Fisik : Riwayat rinci pengobatan, konsumsi alkohol, dan penyakit hati sebelumnya sangat penting. Pemeriksaan fisik harus menilai tanda-tanda penyakit hati, seperti asites, splenomegali, dan ensefalopati.
-
Tes Fungsi Hati (LFT): LFT penting untuk menilai fungsi hati dan mengidentifikasi pola kerusakan hati (misalnya hepatoseluler, kolestatik, atau campuran).
-
Kadar Bilirubin: Mengukur kadar bilirubin total dan langsung membantu membedakan antara hiperbilirubinemia tak terkonjugasi dan terkonjugasi.
-
Hitung Darah Lengkap (CBC): CBC membantu menilai anemia, hemolisis, dan tanda-tanda infeksi.
-
Serologi Hepatitis Virus: Pengujian hepatitis A, B, dan C penting untuk menyingkirkan kemungkinan hepatitis virus.
-
Penanda Autoimun: Pengujian penanda autoimun, seperti antibodi antinuklear (ANA), antibodi anti-otot polos (ASMA), dan antibodi mikrosomal ginjal anti-hati (anti-LKM1), mungkin diindikasikan untuk mengevaluasi hepatitis autoimun.
-
Studi Pencitraan: USG, CT scan, atau MRI perut mungkin diperlukan untuk mengevaluasi obstruksi saluran empedu atau kelainan hati lainnya.
-
Biopsi Hati: Biopsi hati mungkin diindikasikan dalam beberapa kasus untuk menentukan penyebab dan tingkat keparahan cedera hati.
Strategi Manajemen untuk Penyakit Kuning yang Didapat di Rumah Sakit Dewasa
Strategi penatalaksanaan bergantung pada penyebab penyakit kuning.
-
Penghentian Pengobatan yang Menyinggung: Jika dicurigai DILI, obat yang menyebabkan penyakit harus segera dihentikan.
-
Pengobatan Infeksi yang Mendasari: Jika terdapat sepsis, antibiotik yang tepat harus diberikan.
-
Penatalaksanaan Obstruksi Bilier: Obstruksi bilier mungkin memerlukan endoskopi retrograde cholangiopancreatography (ERCP) atau pembedahan.
-
Perawatan Suportif: Perawatan suportif, termasuk hidrasi dan dukungan nutrisi, sangatlah penting.
-
Pengobatan Virus Hepatitis: Terapi antivirus mungkin diindikasikan untuk virus hepatitis.
-
Pengobatan Hepatitis Autoimun: Terapi imunosupresif mungkin diperlukan untuk hepatitis autoimun.
-
Transplantasi Hati: Pada kasus gagal hati yang parah, transplantasi hati dapat dipertimbangkan.
Pencegahan Penyakit Kuning yang Didapat di Rumah Sakit
Tindakan pencegahan sangat penting untuk meminimalkan kejadian penyakit kuning yang didapat di rumah sakit.
-
Penggunaan Obat yang Bijaksana: Meresepkan obat dengan bijaksana dan memantau tanda-tanda kerusakan hati sangatlah penting.
-
Praktik Pengendalian Infeksi yang Ketat: Praktik pengendalian infeksi yang ketat dapat membantu mencegah penularan virus hepatitis nosokomial.
-
**Transfer Aman

